Krisis Properti China: Utang Menggila-Keruntuhan Para Raksasa

Jakarta, CNBC Indonesia¬†– Sektor properti China tenggelam dalam krisis besar seiring dengan babak belurnya para ‘raksasa’ Negeri Tirai Bambu pada tahun ini.

Krisis properti yang menghantam negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu mendapat sorotan publik secara signifikan.

Perlu diketahui, sektor properti di China telah lama menjadi mesin pertumbuhan yang vital bagi ekonomi terbesar kedua di dunia dan menyumbang sebanyak 22-23% terhadap PDB (termasuk furnitur dan elektronik rumah tangga) dibandingkan sebelum deleveraging sebesar 30-35%.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan sektor properti China?

Tanda-tanda krisis properti China sejatinya sudah berlangsung sejak beberapa tahun silam, yang ditandai dengan melesatnya utang dari perusahaan-perusahaan raksasa.

Tumbangnya Evergrande

Kehebohan pun muncul saat Presiden Joko Widodo menyinggung perusahaan properti China yang ambruk dengan utang Rp 4.400 triliun.

Perusahaan tersebut adala Evergrande, yang mengalami krisis utang senilai US$ 300 miliar sejak 2001.

Analis menyebut hal ini lantaran perusahaan properti kedua terbesar China itu, terlalu banyak meminjam uang sementara penjualan sektor properti sendiri sedang cukup bermasalah.

Arus kas berada di bawah “tekanan yang luar biasa”. Kebangkrutan Evergrande bahkan sempat diramal berpotensi menjadi tsunami finansial dan dijuluki “Lehman Brothers China”.

Mantan penasihat Bank Rakyat China, Li Daokui, juga sempat menyebut bahwa krisis Evergrande menghambat pertumbuhan ekonomi China melalui efek domino yang cukup hebat. Evergrande sendiri sempat berjuang untuk membayar supplier-nya dari beberapa bidang seperti cat, baja, dan lain sebagainya.

“Dampaknya pada ekonomi riil karena dengan default Evergrande, akan ada perlambatan dalam pengembangan banyak proyek,” kata figur yang saat ini menjadi profesor di Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Tsinghua itu, seperti dikutip CNBC International.

“Jadi pasar properti riil akan berdampak pada tingkat pertumbuhan PDB untuk tahun mendatang karena keuangan yang lebih lambat untuk seluruh sektor,” tambahnya.

Adapun Evergrande telah divonis gagal bayar obligasi dan langsung beradal di bawah pengawasan polisi.

Evergrande juga mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 15 di pengadilan Amerika Serikat (AS).

Dalam pengajuan ke pengadilan kebangkrutan, perusahaan merujuk proses restrukturisasi di Hong Kong, Kepulauan Cayman, dan Kepulauan Virgin Britania Raya.

Derita Country Garden

Selain Evergrande, Muncul lagi raksasa properti China mau bangkrut. Ini terkait salah satu pengembang non-BUMN terbesar berdasarkan penjualan, Country Garden.

Perusahaan dilaporkan telah melewatkan dua pembayaran kupon obligasi dolar pada 1 Agustus, senilai total US$ 22,5 juta (Rp 342 miliar). Obligasi yang dimaksud adalah obligasi yang jatuh tempo pada Februari 2026 dan Agustus 2030.

Country Garden juga gagal membayar bunga atas surat utang senilai US$500 juta atau Rp7,75 triliun yang jatuh tempo pada 2025.

Batas waktu, termasuk masa tenggang 30 hari setelah melewati tenggat waktu awal 17 September, untuk membayar bunga sebesar US$15,4 juta atau Rp238,7 miliar telah berlalu minggu lalu. Oleh karena itu, peristiwa tersebut merupakan peristiwa gagal bayar.

“Uang tunai yang dapat digunakan telah menurun, menunjukkan tekanan likuiditas berkala, karena penurunan dalam lingkungan penjualan dan pembiayaan kembali, dan dampak dari berbagai peraturan dana,” kutip Reuters mengutip pernyataan Country Garden.

“Perusahaan telah bertahan dengan cepat, tetapi sulit untuk melihat cahaya fajar … kesulitan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tambahnya.

Alhasil saham Country Garden yang terdaftar di Hong Kong amblas serai awal minggu. Sentimen negatif juga terjadi pada sejumlah saham pengembang non-BUMN lainnya seperti Longfor.

“Fakta bahwa (Country Garden) sedang berjuang untuk mengatasi pembayaran bunga, daripada pembayaran pokok obligasi penuh, mungkin menggarisbawahi likuiditasnya yang sangat ketat,” kata analis CreditSight, Nicholas Chen.

“Mengingat ukurannya, kami pikir peristiwa seperti itu akan memiliki efek limpahan negatif untuk sektor ini, terutama pada sentimen investor terhadap pengembang swasta lainnya yang masih bertahan,” tambahnya. https://sebelumnyaada.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*