Jelang Tahun Baru! Harga Emas Diskon, Tapi Masih Mahal?

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas pada perdagangan terakhir 2023 kemarin, Jumat (29/12/2023), terkoreksi tipis dengan masih berada di level tinggi. Emas sempat menembus rekor baru pada perdagangan Rabu (27/12/2023) tetapi telah terkoreksi 2 hari beruntun sejak menyentuh rekor. Sepanjang tahun ini, harga emas cukup fluktuatif dengan tren penguatan.

Pada perdagangan Jumat (29/12/2023) harga emas di pasar spot ditutup melemah 0,11% di posisi US$ 2.062,59 per troy ons. Sepanjang 2023, harga emas telah menguat 13%.

Pada perdagangan Kamis (28/12/2023), harga emas di pasar spot mengalami penurunan sebesar 0,59%, berakhir di level US$ 2.064,86 per troy ons. Penurunan ini terjadi setelah mencapai rekor pada hari Rabu di posisi US$ 2077 per troy ons.

Perlu dicatat bahwa pada hari Rabu sebelumnya (27/12/2023), harga emas di pasar spot mengalami kenaikan sebesar 0,51%, berada di posisi US$ 2.077,16 per troy ons. Harga ini mencatat rekor baru dan mengalahkan rekor sebelumnya pada 1 Desember di level US$ 2.070,9. Dengan demikian, harga emas telah mencatat rekor dua kali dalam bulan ini.

Sebelum bulan Desember, rekor tertinggi harga emas tercatat pada 6 Agustus 2020, yaitu US$ 2.063,19 per troy ons. Penyebab dari pelemahan harga emas menjelang akhir tahun adalah ekspektasi terhadap suku bunga dan pelemahan nilai dolar. Namun, pada hari sebelumnya, indeks dolar kembali menguat, menyebabkan sedikit tekanan pada harga emas.

Indeks dolar AS naik sebanyak 0,27% menjadi 100,93 pada hari Kamis (28/12/2023), setelah mencapai level terendah dalam lima bulan. Imbal hasil Treasury AS 10 tahun juga berada di level 3,84%, meskipun turun dari level terendah sejak bulan Juli. Meskipun data ketenagakerjaan AS menunjukkan perlambatan, dolar tetap menguat.

Tidak hanya itu, data klaim pengangguran AS naik pekan lalu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa klaim pertama kali untuk tunjangan naik 2.000 menjadi 205.000 dalam pekan yang berakhir 16 Desember 2023. Kedua sentimen ini menunjukkan potensi penguatan dolar AS yang disinyalir menjadi penyebab koreksi pada dua hari sisa perdagangan tahun ini.

Menurut analis UBS, Giovanni Staunovo, pelemahan harga emas bersifat sementara karena logam mulia tersebut masih memiliki potensi untuk menguat di masa mendatang. Staunovo menyatakan, “Kami memproyeksikan bahwa harga emas akan mengalami kenaikan dalam 12 bulan ke depan, karena data ekonomi yang lemah dan inflasi yang rendah di AS akan mendorong The Fed untuk menurunkan suku bunganya,” seperti dilansir dari Reuters.

Dari segi fisik, impor emas bersih China melalui Hong Kong naik sekitar 37% pada bulan November dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Harga emas sangat responsif terhadap perubahan suku bunga AS, di mana kenaikan suku bunga dapat menguatkan dolar AS dan imbal hasil Treasury AS.

Hal ini tidak menguntungkan emas karena membuatnya sulit dibeli, sehingga permintaan menurun. Selain itu, emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga kenaikan imbal hasil Treasury AS membuatnya kurang menarik.

Namun, suku bunga yang lebih rendah dapat melemahkan dolar AS dan imbal hasil Treasury AS, sehingga mengurangi biaya kesempatan memegang emas. Oleh karena itu, emas menjadi lebih menarik sebagai investasi seiring dengan adanya prospek penguatan ke depan. https://knalpotbelah.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*